AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
PEMBENTUKAN
KARAKTER MURID
UNTUK
MEWUJUDKAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH
MELALUI
BUDAYA 5 S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN DAN SANTUN)
Oleh:
I
Nyoman Sita Setiawan
Guru
SD Negeri 5 Tianyar
Calon
Guru Penggerak Karangasem, Bali
LATAR BELAKANG
Ketika kita berbicata sekolah sebagai institusi pembentukan karakter, kita ingat kembali makna pendidikan sendiri dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara:
“Adapun maksud pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20).
Dari kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tetapi berdampak pada masyarakat. Pertanyaannya sekarang adalah karakter seperti apa yang bisa menyiapkan murid menjadi manusia dan masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri. Jika kita mengacu pada dasar negara kita, yaitu Pancasila, ada beberapa karakter yang dapat kita contoh, antara lain : beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebhinekaan global, bernalar kritis, dan mandiri.
Adapun tujuan
pendidikan karakter secara luas (CCR, 2015) adalah:
1.
Untuk membangun fondasi dalam
pembelajaran seumur hidup.
2.
Untuk mendukung relasi yang baik di
dalam tempat tinggal, komunitas, dan tempat kerja.
3.
Untuk mengembangkan nilai-nilai (values) personal dalam berkontribusi di
kehidupan global.
Tujuan utama dari pendidikan karakter juga bukan hanya mendorong murid
untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga
untuk menanamkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlihat di dalam
masyarakat.
Menurut Character Education
Partnership (2010) ada beberapa panduan dalam pelaksanaan program
pendidikan karakter di sekolah agar program yang dibentuk dapat berjalan dengan
efektif:
1.
Nilai inti (Core values) yang disusun diidentifikasikan, dilaksanakan, dan
tertanam dalam budaya sekolah.
2.
Karakter harus secara komprehensif
menggambarkan cara berpikir, merasa, dan berperilaku.
3.
Sekolah mengunakan pendekatan yang
komprehensif dan proaktif untuk mengembangkan karkater.
4.
Sekolah harus menjadi komunitas yang
menunjukkan rasa peduli.
5.
Untuk mengembangkan karakter, murid
membutuhkan kesempatan agar dapat berperilaku baik secara moral.
6.
Melibatkan seluruh staf sekolah.
7.
Memerlukan kepemimpinan positif (positive leadership) dari staf sekolah
dan murid.
8.
Melibatkan orang tua dan komunitas
sekolah lainnya.
9.
Menilai hasil pendidikan karakter dan
melakukan improvisasi secara berkala.
Untuk mewujudkan budaya positif sekolah tersebut, saya selaku pendidik merencanakan kegiatan aksi nyata, yaitu “Pembentukan Karakter Murid Untuk Mewujudkan Budaya Positif di Sekolah Melalui Budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun).”
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah
sebagai berikut.
1. Menumbuhkembangkan
budaya positif di sekolah.
2. Membentuk
karakter murid agar sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
3. Dengan
budaya senyum murid merasa lebih damai dan senang berada di lingkungan sekolah.
4. Dengan
budaya sapa dan salam murid dapat mempererat tali persahabatan dan mencairkam
suasana.
5. Dengan budaya sopan dan santun akan terbentuk pribadi-pribadi yang baik sehingga tercipta keharmonisan antar warga sekolah.
DESKRIPSI AKSI NYATA
Untuk mewujudkan tujuan dari kegiatan aksi
nyata ini, saya melakukan beberapa tindakan. Tindakan yang dilakukan adalah sebagai
berikut.
1. Bertemu
dengan Kepala Sekolah memaparkan rancangan aksi.
2. Mengadakan
diskusi dengan murid kelas V melaui WA Group maupun tatap muka terbatas ketika
murid mengambil dan menyetorkan tugas ke sekolah untuk membentuk kesepakatan
kelas terkait penerapan budaya positif yang akan di sekolah khusunya di kelas
V.
3. Menyepakati
pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun).
4. Mensosialisasikan
kesepakatan kelas kepada murid kelas V melaui WA Group maupun tatap muka
terbatas ketika murid mengambil dan menyetorkan tugas ke sekolah.
5. Memantau
aktivitas murid melaui WA Group maupun tatap muka terbatas ketika murid
mengambil dan menyetorkan tugas ke sekolah.
6. Melaporkan hasil pemantauan kepada Kepala Sekolah dan guru lainnya sebagai bahan refleksi.
Tolok ukur keberhasilan dari kegiatan aksi
nyata ini adalah sebagai berikut.
1. Murid
terbiasa memberikan senyum dan sapaan ketika bertemu dengan teman, guru atau
pegawai, termasuk kepada tamu yang datang ke sekolah.
2. Murid
terbiasa memberikan salam ketika berkomunikasi ketika bertemu dengan teman, guru
atau pegawai, termasuk kepada tamu yang datang ke sekolah.
3. Murid terbiasa berperilaku sopan dan santun dalam kesehariannya di sekolah.
HASIL AKSI NYATA
Hasil aksi nyata “Pembentukan Karakter Murid Untuk Mewujudkan Budaya Positif di Sekolah
Melalui Budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun)” dapat diuraikan
sebagai berikut.
1. Pada
awalnya, pembentukan kesepakatan kelas terkait budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam,
Sopan dan Santun) kurang mendapat respon dari murid-murid karena mereka belum
terbiasa mengungkapkan pendapatnya. Setelah dipandu dan dituntun dengan sabar,
akhirnya mereka pun dapat menyampaikan pendapat dan menyetujui kesepakatan
kelas yang sudah disusun.
2. Perubahan
perilaku murid sudah tampak. Sebelum kesepakatan kelas dibentuk, ketika murid
mau bertanya kepada guru di WA selalu mengawali percakapan dengan menulis huruf
“P” dikolom chat untuk mengetahui apakah gurunya sedang online atau tidak.
Secara perlahan, mereka pun berubah. Mengawali percakapan di WA mereka mengetik
kata “Om Swastyastu, Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam Pak Guru, Maaf
saya menggangu ...”
3. Ketika
murid mengambil dan menyetorkan tugas ke sekolah, mereka selalu menaati
protokol kesehatan, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air
mengalir, dan menjaga jarak, serta berpakaian rapi, sopan dan santun dalam
berperilaku. Meskipun dalam situasi darurat Covid-19, mereka tetap memberikan
salam dan menyapa teman, guru, pegawai, dan Kepala Sekolah, serta tamu yang
datang ke sekolah.
4. Pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) ini mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah dan orang tua. Guru-guru yang sudah mulai melakukan pembiasaan budaya 5 S ini. Orang tua pun mendukung dan mengharapkan kegiatan ini berkelanjutan.
REFLEKSI AKSI NYATA
Hal terbaik yang diperoleh dari aksi nyata “Pembentukan Karakter Murid Untuk Mewujudkan Budaya Positif di Sekolah Melalui Budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun)” tersebut adalah perubahan mindset penulis tentang budaya positif di sekolah, pentingnya kesepakatan kelas dan pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun), agar benar-benar membawa perubahan karakter pada murid.
Sebelumnya, penulis kurang mengembangkan budaya positif di sekolah, namun sekarang diupayakan melakukan pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) bersama murid dan memberikan tuntunan tanpa melepaskan begitu saja.
Adapun kendala yang dialami, yaitu sulitnya melakukan kesepakatan kelas dan memantau aktivitas murid terkait pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) dalam kondisi belajar secara daring dan tatap muka terbatas. Solusi yang dilakukan yaitu guru selalu ekstra sabar dalam melakukan pemantauan pembiasaan budaya 5 S ini karena tidak dapat bertatap muka secara langsung setiap hari.
RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG
Pembentukan karakter murid untuk mewujudkan budaya positif di sekolah mealaui budaya pembiasaan budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) akan dapat terlaksanakan dengan baik manakala semua stakeholder yang ada di sekolah tersebut mendukung dan terlibat langsung untuk mewujudkan dan melaksanakannya secara terus menerus. Budaya 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan dan Santun) agar menjadi pembiasaan bagi warga sekolah dalam kesehariannya. Untuk itu, kssolaborasi antara pihak sekolah, komite dan orang tua murid harus terjalin dengan baik.
DOKUMENTASI KEGIATAN











Komentar
Posting Komentar