ARTIKEL REFLEKSI AKSI NYATA PAKET MODUL 3 “GEMA SEBALI”

 

ARTIKEL REFLEKSI

AKSI NYATA PAKET MODUL 3

“GEMA SEBALI”

(Gerakan Mading Selamatkan Budaya Literasi)

Bersama:

I Nyoman Sita Setiawan

Guru SD Negeri 5 Tianyar

CGP-1-Kabupaten Karangasem, Bali


LATAR BELAKANG

Rendahnya minat baca di Indonesia sudah masuk kategori mengkhawatirkan sehingga pemerintah harus bekerja keras untuk menaikkan tingkat literasi di Tanah air. Salah satu program  pemerintah adalah melaksanakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah usaha demi menumbuhkan minat baca dan menulis pada murid dan menjadikannya sebagai sikap yang tertanam untuk seumur hidup.

Untuk mendukung program pemerintah dan mewujudkan visi sekolah “Unggul dalam prestasi, berbudi pekerti, dan berwawasan lingkungan,” maka Satuan Pendidkan SD Negeri 5 Tianyar menuangkan program tersebut ke dalam misi sekolah. Salah satu misi sekolah, yaitu Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah.”

Upaya untuk mengembangkan budaya literasi di sekolah tidaklah mudah. Banyak tantangan yang dihadapi guru di antaranya murid melakukan kegiatan membaca dengan terpaksa bukan karena kesadaran dari dalam dirinya. Kemampuan murid untuk membuat kesimpulan dan memaknai isi buku yang dibacanya masih rendah. Publikasi karya murid juga sangat minim. Oleh karena itu, guru harus perhatian, sabar, telaten, peduli, dan yang paling penting adalah “menjadi teladan” bagi muridnya. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dan pembiasaan yang terus menerus serta didukung oleh motivasi dan perhatian orang tua di rumah, agar muncul kesadaran murid untuk membaca dan menulis. Seperti sebuah kata motivasi, “Jika ingin mengenal dunia, membacalah. Jika ingin dikenal dunia, menulislah.”

Salah satu cara untuk membangkitkan kesadaran dan motivasi murid agar mau membaca dan menulis adalah dengan mempublikasikan atau memajangkan karya terbaik mereka di papan pajangan yang dikemas menjadi Majalah Dinding (Mading). Mading adalah salah bentuk dari majalah sekolah. Mading memiliki fungsi sebagai media pembelajaran bagi murid untuk mengembangkan keterampilan menulis. Minat dan kegemaran menulis bisa dimulai dan dikembangkan melalui mading. Fungsi ini bisa maksimal ketika mading dikelola secara serius.

Mengingat begitu pentingnya mading tersebut, maka saya selaku guru tergerak untuk menggerakkan warga sekolah melalui sebuah program yang berjudul:“GEMA SEBALI” (Gerakan Mading Selamatkan Budaya Literasi).

TUJUAN

Adapun tujuan dari progran ini adalah untuk meningkatkan budaya literasi di sekolah.

DESKRIPSI AKSI NYATA

Untuk mewujudkan tujuan dari kegiatan aksi nyata ini, saya melakukan beberapa tindakan. Tindakan yang dilakukan mengikuti alur BAGJA sebagai berikut.

1.    Buat Pertanyaan

Bagaimana cara meningkatkan budaya literasi murid di sekolah?

 

2.    Ambil Pelajaran

Cerita/pengalaman baik:

Setiap pagi hari, sebelum pelajaran dimulai, murid-murid melakukan kegiatan literasi (membaca buku). Kemudian, murid-murid menuliskan isi buku tersebut dalam berbagai bentuk sesuai dengan kreativitas masing-masing. Karya murid yang terbaik akan dipajang di Mading Mini.

 

3.    Gali Mimpi

Cita-cita atau mimpi:

a.  Murid yang memiliki minat baca, mengembangkan keterampilan menulis, dan berkreasi.

b.  Murid yang memiliki jiwa literasi adalah murid yang jujur, kreatif, menghargai karya orang lain, dan bertanggung jawab dengan pilihannya.

c.  Guru harus mempunyai sikap terbuka akan saran dan masukan dari orang lain, memberikan kesempatan kepada murid seluas-luasnya dalam pengembangan diri, dan mengarahkan murid dengan baik.

d.  Kepala sekolah yang mendorong budaya literasi murid harus memiliki sikap bertanggung jawab, terbuka, dan memberikan kepercayaan terhadap langkah perbaikan dan pengembangan guru dan murid.

e.  Orang tua yang mendorong budaya literasi murid harus memiliki sikap peduli, terbuka, dan memberikan kepercayaan terhadap langkah perbaikan dan pengembangan literasi murid.

f.   Hal yang perlu dimiliki untuk meningkatkan budaya literasi murid yaitu memiliki etika dan integritas, memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi, memiliki motivasi dan komitmen, kreatif dan inovatif, selalu menghargai karya orang lain, siap menerima kritik dan saran, jujur, dan memiliki kestabilan emosi.

 

4.    Jabarkan Rencana

Rencana Program:

a.    Program ini dapat berjalan dengan baik dengan keterlibatan semua komunitas sekolah, seperti kepala sekolah sebagai penanggung jawab, para guru sebagai pengarah sekaligus Tim Pengembang dan murid sebagai pelaksana. Murid yang menjadi pelaksana mempunyai kebebasan untuk merancang kegiatan dengan petunjuk dan arahan dari guru/kepala sekolah. Kegiatan ini dapat melibatkan masyarakat di sekitar sekolah.

b.    Monitor dilakukan oleh murid kepada murid dan untuk murid sendiri.

c.    Evaluasi melibatkan guru, kepala sekolah, dan masyarakat luar sekolah.

 

5.    Atur Eksekusi

Penanggungjawab dan mekanisme koordinasi antar tim:

a.    Penanggung jawab kegiatan: kepala sekolah

b.    Pengarah: Dewan Guru

c.    Koordinator pelaksana: ketua kelas

d.    Laporan dibuat oleh: Ketua Tim Pengembang Literasi

e.    Koordinasi dilakukan dengan rapat setiap satu minggu sekali internal panitia.

f.     Hasil rapat internal dilaporkan kepada Dewan Guru sebagai pengarah.

g.    Evaluasi dapat dilakukan melalui rapat koordinasi dengan kepala sekolah dan guru.

 

HASIL AKSI NYATA

Hasil aksi nyata :“GEMA SEBALI” (Gerakan Mading Selamatkan Budaya Literasi) dapat diuraikan sebagai berikut.

1.    Guru telah menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.

2.    Guru bersama murid telah memanfaatkan pojok baca dan membuat mading mini di kelas. 

      Kelas-kelas yang sudah memanfaatkan pojok baca dan membuat mading adalah sebagai berikut.

Kelas

Pemanfaatan Pojok Baca

Membuat Mading

I.A

Sudah

Belum

I.B

Sudah

Belum

II

Sudah

Belum

III

Sudah

Belum

IV

Sudah

Sudah

V

Sudah

Sudah

VI

Sudah

Sudah


   Pojok baca yang ada di kelas membantu murid mengembangkan literasinya. Mading (majalah dinding) mini juga membantu murid memajang/mempublikasikan karya-karya terbaiknya.

3.    Murid merespon sangat positif kegiatan ini karena mereka dapat mengembangkan kemampuan dan meningkatan minat baca.

4.    Murid menjadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk memajang/ mempublikasikan karya-karya terbaiknya.

5.    GEMA SEBALI (Gerakan Mading Selamatkan Budaya Literasi) telah menjadikan sekolah khususnya kelas sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

REFLEKSI AKSI NYATA

Untuk mendapat hasil yang maksimal dari refleksi perlu ditinjau kembali pemikiran yang dimiliki seperti diuraikan di bawah ini.

1.    Fakta (Fact)

Hal yang paling berkesan/berbeda/menarik dari kegiatan Aksi Nyata “GEMA SEBALI” adalah antusiasme murid ketika membuat dan memajangkan/ mempublikasikan karya-karya terbaiknya di mading. Situasi pandemi tidak menyurutkan semangat murid untuk mengembangkan potensi dirinya.

 

2.    Perasaan (Feeling)

Sebagai pendidik, saya merasa senang dan bangga dengan kreatifitas murid-murid. Mereka benar-benar memiliki potensi yang terpendam.

 

3.    Temuan (Finding)

 

Adapun kendala yang dialami, yaitu sulitnya melakukan gerakan literasi dalam kondisi belajar secara daring dan tatap muka terbatas. Guru harus selalu ekstra sabar dalam melakukan gerakan literasi karena tidak dapat bertatap muka secara langsung setiap hari.

 

Pembelajaran kongkret yang dapat diambil dari situasi tersebut adalah perubahan mindset guru dan murid tentang literasi agar siap menjadi seorang literat dalam menyikapi sebuah perubahan dan benar-benar membawa perubahan karakter pada murid. Kesadaran guru dan murid untuk mengembangkan budaya literasi khususnya mading perlu ditingkatkan lagi.

 

4.    Masa Depan (Future)

Kesadaran guru dan murid untuk mengembangkan budaya literasi khususnya mading perlu ditingkatkan lagi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan di antaranya:

a.    Melakukan sosialisasi tentang penting budaya literasi.

b.    Menularkan dan meminta umpan balik kepada rekan-rekan guru terhadap praktik baik ini.

c.    Mengajak rekan-rekan guru untuk melakukan refleksi terhadap praktik baik yang sudah dilakukan di sekolah. Dari refleksi tersebut akan diketahui keberhasilan dan kelemahan yang perlu diperbaiki. Keberhasilan yang dialami oleh guru akan menjadi kekuatan bagi sekolah untuk meningkatkan pelayanan kepada murid.

d.    Semua guru harus siap menjadi seorang literat dalam menyikapi sebuah perubahan untuk menumbuhkembang-kan budi pekerti murid melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang ayat.

DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 1 : Rapat Pembentukan Tim Pengembang Literasi

Gambar 2: Kegiatan Membaca Buku

Gambar 3: Diskusi Kelompok (Pembagian Tugas)

Gambar 4: Pembuatan Mading Mini

Gambar 5: Ekspresi Murid Mengajak Warga Sekolah 

Mengembangkan Budaya Literasi











Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF