Tugas Modul 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual-Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
JURNAL MONOLOG REFLEKSI
"PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN"
I NYOMAN SITA SETIAWANCGP ANGKATAN 1_KABUPATEN KARANGASEM-BALI
Salam sehat dan bahagia.
Berikut ini saya sajikan paparan jurnal monolog refleksi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Tujuan Pembelajaran Khusus
CGP dapat mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajarinya tentang keempat paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan sembilan langkah pengujian keputusan pada konteks di sekolah asal masing-masing.
Pertanyaan Panduan
- Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?
- Apa langkah-langkah awal yang Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?
- Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda sehingga Anda tidak lupa.
- Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.
Simak penjelasannya pada video berikut ini!
Penjelasan lebih detailnya dapat disimak pada paparan saya di bawah ini.
Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?
Cara saya mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya adalah sebagai berikut.
- Cara saya mentransfer pengetahuan yang saya dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya adalah dengan menceritakan dan menyampaikan pengetahuan dan pengalaman baru tersebut kepada kepala sekolah, rekan-rekan di komunitas praktisi, teman sejawat, dan teman-teman di komunitas KKG. Selain itu, saya juga mengeshare video tentang pengalaman saya menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di program guru penggerak.
- Cara saya menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya adalah dengan mempraktikkan pengetahuan baru tersebut di kelas saya terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan di komunitas yang lebih besar seperti komunitas praktisi, sekolah, maupun komunitas KKG.
Cara ini dilakukan dengan penuh keberanian, percaya diri, dan rasa tanggung jawab.
Apa langkah-langkah awal yang Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?
Langkah-langkah awal yang saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut.
- Melakukan pemetaan terhadap permasalahan yang ada, apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Kalau dilema etika (Benar vs Benar), situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan, di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (Benar vs Salah), situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.
- Mengadopsi empat paradigma dilema etika tiga prinsip dilema etika, dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Berikut penjelasannya.
Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini.
- Individu lawan masyarakat (individual vs community). Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil, dan apa yang benar untuk orang lain, kelompok yang lebih besar.
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tetapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan).
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). Kejujuran dan kesetiaan sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup, dam lain-lain.
Tiga Prinsip Dilema Etika
Etika
tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak
ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun
ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam
seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang sering membantu dalam menghadapi
pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus di hadapi pada dunia saat ini.
(Kidder, 2009, hal 144).
Ketiga prinsip tersebut adalah:
- Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking). Melakukan, demi kebaikan orang banyak.
- Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking). Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri kita.
- Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita.
Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan
- Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. Ada dua alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengambilan dan pengujian keputusan. Alasan pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya, bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dam apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karea dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penark yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.
- Pengujian benar atau salah. Pertama, Uji Legal. Pertanyaan yang harus diajukan di sini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah ia, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral. Kedua, Uji Regulasi/Standar Profesional. Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seoang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya. Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tetapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda. Ketiga, Uji Intuisi. Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini, Walau mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar. Keempat, Uji Halaman Depan Koran. Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika. Kelima, Uji Panutan/Idola. Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalna ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukalah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.
- Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
- Melakukan Prinsip Resolusi
- Investigasi Opsi Trilema
- Buat Keputusan
- Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. Ketika keputusan sudah diambil, lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.
Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda sehingga Anda tidak lupa.
Saya akan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran mulai hari ini dan dimulai dari diri saya sendiri. Kemudian, saya juga melakukan hal tersebut di kelas saya, di komunitas praktisi, sekolah, maupun di komunitas KKG. Langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini akan saya lakukan secepatnya, secara konsisten, dinamis, dan fleksibel untuk menghindari munculnya permasalahan yang baru.
Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.
Dalam menjalan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah adalah pendamping saya yang andal. Selain sebagai penanggung jawab, beliau juga sebagai teman diskusi saya untuk menentukan apakah langkah-langkah yang saya ambil telah tepat dan efektif. Saya juga membutuhkan keterlibatan rekan-rekan guru, orang tua, maupun murid-murid agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tepat sasaran dan bermanfaat.
Demikian paparan jurnal monolog refleksi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat saya sajikan. Semoga bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar